A. Ilustrasi untuk Refleksi Kita
Singapura merdeka pada tahun 1965 melalui proses penyerahan kekuasaan
(Hand Over) oleh Inggris. Pada masa-masa awal kemerdekaannya Singapura
melalui proses pembentukan karakter kebangsaannya dipandu oleh
pemimpinnya bernama Lee Kwan Yew. Bangsa Singapura dibimbing untuk
bekerja keras dan menyikapi keadaan dengan positif. Lee Kwan Yew setiap
hari membagikan kartu-kartu pos (Post Card) bergambar pemandangan kota
di negara Swiss yang bersih kepada penduduk Singapura. Ternyata Lee Kwan
Yew mencoba untuk membentuk karakter penduduk Singapura dengan memberi
contoh visual yang mudah mereka pahami. Dengan cara demikian, penduduk
Singapura menjadi lebih mencintai kebersihan dan menerapkan perilaku
kehidupan yang bersih dan disiplin.
Saat ini kita mengenal bangsa Singapura sebagai bangsa yang tangguh,
beretos kerja tinggi, disiplin, dan selalu menjaga kebersihan. Negara
Singapura juga sudah tumbuh ekonominya menjadi salah satu kekuatan
ekonomi besar di lingkungan Asia Pasifik. Kemajuan bangsa Singapura juga
bisa dilihat dari perkembangan teknologi informasi yang semakin
canggih.
Kondisi Singapura yang semakin maju dewasa ini membuktikan bahwa
kualitas SDM jauh lebih penting daripada kekayaan Sumber Daya Alam
(SDA), karena dari aspek SDA justru Singapura tidak memiliki banyak
potensi yang dapat dieksplorasi.
Ilustrasi ini menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia yang memperoleh
kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata dan memiliki karunia Tuhan
berupa kekayaan SDA yang melimpah namun sampai saat ini kita belum mampu
bangkit menjadi kekuatan ekonomi yang maju sebagaimana Singapura. Pada
tahun 1965 bangsa Singapura masih membentuk karakter sedangkan Indonesia
yang telah merdeka dua puluh tahun sebelumnya telah menjadi bangsa yang
berkarakter kuat. Presiden Soekarno sangat dihormati oleh kalangan
pemimpin dunia termasuk Jhon F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat.
Presiden Soekarno berani mengatakan kepada Amerika Serikat, ”Go To Hell
with your Aid” yang menunjukkan sikap yang sangat berani dan penuh
percaya diri serta kemandirian yang kuat. Presiden Soekarno juga mampu
menggalang dukungan dari banyak negara untuk membentuk aliansi kerja
sama negara-negara kekuatan baru (New Emerging Forces) di luar Blok
Barat dan Blok Timur.
Presiden Soekarno sangat memprioritaskan pembangunan karakter bangsa
Indonesia. Ia mendambakan agar bangsa Indonesia mempunyai kepribadian
yang tangguh untuk dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah serta
memiliki kesetaraan di antara bangsa-bangsa terkemuka lain di dunia.
Rumus Presiden Soekarno dalam membangun bangsa ini adalah Tiga Keutamaan
yang lebih terkenal dengan singkatan Tri Sakti yang terdiri dari: 1)
Berkemandirian dalam Ekonomi; 2) Berkedaulatan dalam Politik; dan 3)
Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Namun sekarang Indonesia telah menjadi bangsa yang mengalami kemunduran
karakter. Mentalitas ingin cepat dapat hasil secara instan dan tidak mau
bekerja keras untuk berproses secara wajar telah menggerus karakter
bangsa Indonesia menjadi semakin lemah. Banyaknya kasus korupsi yang
terkena pada generasi muda dan tokoh terpandang merupakan contoh nyata
dari dampak karakter yang lemah tersebut. Oleh karena itu diperlukan
upaya konkret untuk membangun karakter bangsa Indonesia menjadi lebih
baik dan penuh integritas.
Tulisan ini mencoba menguraikan tentang langkah-langkah yang dapat
dilakukan untuk membentuk pribadi yang berkarakter kuat dan
berintegritas tinggi. Metode dan pendekatan yang ditawarkan dalam
tulisan ini adalah melalui pendidikan yang sistematis yaitu Pendidikan
Anti Korupsi. Pada intinya ada 9 nilai dasar dari Pendidikan Anti
Korupsi yang akan diuraikan. Selain itu juga dijelaskan tentang peran
yang dilakukan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam implementasi Pendidikan Anti Korupsi.
B. Makna Karakter dan Integritas
Pribadi yang berkarakter adalah seseorang yang memiliki nilai-nilai
kehidupan terpuji (Superior Values) dan memegang teguh nilai tersebut
serta diamalkan dalam menjalani kegiatannya. Nilai-nilai utama kehidupan
diperoleh seseorang dari berbagai sumber antara lain adalah agama,
bimbingan keluarga, dan masyarakat. Agama apapun akan mengajarkan
nilai-nilai perilaku kebaikan yang membimbing penganutnya untuk bersikap
dan bertindak yang positif. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bila
seseorang jauh dari bimbingan agama maka ia akan cenderung untuk
berperilaku negatif.
Keluarga yang harmonis akan memberikan cinta kasih dan contoh
keteladanan bagi putera puterinya. Perhatian dan kehangatan cinta
seorang ibu mampu memberi keseimbangan jiwa bagi anaknya. Perlindungan
dan perjuangan seorang ayah akan memberi inspirasi kepada anaknya untuk
senantiasa mempertahankan kehidupan dengan martabat yang mulia. Keluarga
yang retak (broken home) dapat menimbulkan keguncangan jiwa dan
kelemahan hati bagi anak walaupun ditemukan juga beberapa contoh kecil
seseorang yang berhasil walau tumbuh di lingkungan keluarga yang hancur.
Pendidikan masyarakat terhadap seseorang adalah pendidikan hakiki yang
sesungguhnya. Lingkungan yang sehat akan menjadi pondasi dan lahan
persemaian benih jiwa yang tangguh dalam menempuh kehidupan. Tatanan
kehidupan sosial budaya akan memperkaya pengalaman hidup seseorang dan
menjadikannya lebih arif dan bijaksana serta bertoleransi terhadap
perbedaan. Ia menyadari bahwa ia berada dalam suatu sistem kehidupan
yang multi aspek. Ia akan mampu memberi apresiasi terhadap
keanekaragaman sebagai suatu mozaik penuh warna yang indah dan simetris.
Pribadi yang berintegritas adalah seseorang yang mempunyai pendirian dan
memegang prinsip. Makna integritas itu sendiri adalah satunya kata
dengan perbuatan. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak
diucapkannya. Perkataannya selalu memiliki nilai tambah. Ia tidak akan
mengenakan sesuatu barang atau apapun yang berharga mahal dan mewah
apabila ia mengucapkan bahwa ia ingin hidup sederhana. Ia tidak
sembarangan dalam mengutarakan pendapatnya. Segala sesuatunya selalu
dipertimbangkan dengan pemikiran dan kebijaksanaan yang matang.
Orang yang berintegritas adalah orang yang sudah memiliki kepribadian
secara utuh. Ia menyadari kebutuhan sesuai dengan proporsinya. Ia selalu
mampu mengendalikan diri dan berada dalam kecukupan serta tidak pernah
berkekurangan atau berkelebihan. Ia memiliki konsep citra diri yang
jelas dan mendapatkan kepribadian utuh melalui proses pembelajaran dari
pengalaman hidup yang dilaluinya. Ia tidak perlu menempuh pendidikan
kepribadian ala barat yang banyak berkembang dewasa ini.
Orang yang berintegritas adalah pribadi matang yang berorientasi pada
proses, bukan pada hasil semata. Ia meyakini bahwa bila ia melaksanakan
sesuatu sesuai dengan tahapan yang benar dengan cara sebaik-baiknya,
maka hasil yang akan diperoleh pasti akan baik pula. Sebaliknya bila ia
mengerjakan kegiatan dengan proses yang buruk, maka hasilnya juga akan
buruk pula. Ia tidak akan tergiur untuk memperoleh hasil yang banyak
dengan cara yang cepat dan tergesa-gesa.
C. Pendidikan Anti Korupsi
Pendidikan Anti Korupsi (PAK) adalah salah satu solusi yang dapat
mengatasi masalah kelemahan karakter bangsa. PAK merupakan paket program
pendidikan yang modul-modulnya disusun oleh pakar untuk semua jenjang
pendidikan sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Untuk
mengimplementasikan PAK maka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah
bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dalam hal
ini adalah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal
Pendidikan Menengah, dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
KPK mengajukan PAK sebagai solusi mengatasi masalah lemahnya karakter
bangsa didasarkan atas argumentasi yang matang. Upaya penindakan yang
dilakukan oleh KPK selama ini terhadap kasus-kasus korupsi dirasakan
belum memadai. Efek jera yang diharapkan muncul dari upaya penindakan
belum sesuai dengan harapan. Masih banyak pihak yang mencoba mencari
celah kelemahan hukum untuk terus berlaku curang dan merugikan keuangan
negara.
Oleh karena itu perlu pendekatan yang lain di samping upaya penindakan.
Pendekatan tersebut menggunakan pola dari dalam keluar (Inside Out)
yaitu dengan menumbuhkan kesadaran jiwa yang pada akhirnya akan
melahirkan perilaku tindakan yang mulia. Pendekatan seperti ini
memerlukan waktu yang panjang dan tidak bisa instant. Pendekatan ini
dapat dilakukan dengan menerapkan suatu pendidikan yang sistematis
disebut dengan istilah Pendidikan Anti Korupsi (PAK).
D. Sembilan Nilai Pendidikan Anti Korupsi
Inspektorat Jenderal mendorong implementasi pendidikan anti korupsi
melalui internalisasi sembilan nilai inti dalam pendidikan anti korupsi
yaitu 1) Jujur; 2) Peduli; 3) Mandiri; 4) Disiplin; 5) Tanggung jawab;
6) Kerja keras; 7) Sederhana; 8) Berani; dan 9) Adil yang akan
diimplementasikan dalam kegiatan pengajaran di setiap jenjang
pendidikan. Berikut ini adalah uraian keterangan singkat dari kesembilan
nilai tersebut.
1. Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi
penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya kejujuran mustahil
seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas. Seseorang dituntut
untuk bisa berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik
terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kejujuran juga akan terbawa
dalam bekerja sehingga dapat membentengi diri terhadap godaan untuk
berbuat curang.
2. Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat
kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat banyak
orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan uluran tangan.
Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk memperkaya diri
sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia malah berupaya untuk
menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu sesama.
3. Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang menjadi
tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian
yang dimiliki seseorang memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya
pikirnya guna bekerja secara efektif. Jejaring sosial yang dimiliki
pribadi yang mandiri dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaannya tetapi
tidak untuk mengalihkan tugasnya. Pribadi yang mandiri tidak akan
menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi
mencapai keuntungan sesaat.
4. Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan
konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat seseorang
akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya.
Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama
dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai
kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara yang mudah.
5. Tanggungjawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari bahwa
keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan perbuatan baik
demi kemaslahatan sesama manusia. Segala tindak tanduk dan kegiatan yang
dilakukannya akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang
Maha Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran seperti
ini maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan tercela dan
nista.
6. Kerja Keras
Perbedaan nyata akan jelas terlihat antara seseorang yang mempunyai etos
kerja dengan yang tidak memilikinya. Individu beretos kerja akan selalu
berupaya meningkatkan kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya
kemanfaatan publik yang sebesar-besarnya. Ia mencurahkan daya pikir dan
kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan berkarya dengan
sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan
keringat.
7. Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari
kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan semestinya tanpa
berlebih-lebihan. Ia tidak tergoda untuk hidup dalam gelimang kemewahan.
Kekayaan utama yang menjadi modal kehidupannya adalah ilmu pengetahuan.
Ia sadar bahwa mengejar harta tidak akan pernah ada habisnya karena
hawa nafsu keserakahan akan selalu memacu untuk mencari harta
sebanyak-banyaknya.
8. Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian untuk
menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan. Ia tidak akan mentolerir
adanya penyimpangan dan berani menyatakan penyangkalan secara tegas. Ia
juga berani berdiri sendirian dalam kebenaran walaupun semua kolega dan
teman-teman sejawatnya melakukan perbuatan yang menyimpang dari hal yang
semestinya. Ia tidak takut dimusuhi dan tidak memiliki teman kalau
ternyata mereka mengajak kepada hal-hal yang menyimpang.
9. Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia
terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk
mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan. Bila ia seorang
pimpinan maka ia akan memberi kompensasi yang adil kepada bawahannya
sesuai dengan kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkan keadilan dan
kemakmuran bagi masyarakat dan bangsanya.
E. Penutup
Upaya-upaya untuk membentuk karakter dan integritas bangsa Indonesia
yang lebih baik harus didukung penuh. Pendidikan Anti Korupsi merupakan
salah satu upaya positif yang dapat menjadi solusi efektif dalam
mengatasi masalah lemahnya karakter dan integritas walaupun akan memakan
waktu yang lama. Pendidikan memang suatu proses panjang yang harus
ditempuh untuk membentuk perilaku seseorang. Sembilan nilai yang telah
dirumuskan dalam pendidikan anti korupsi akan menjadi instrumen pranata
yang akan memandu implementasi jalannya pendidikan tersebut. Inspektorat
Jenderal akan terus mendukung terlaksananya pendidikan anti korupsi di
semua jenjang pendidikan agar berjalan secara efektif dan menghasilkan
hasil yang optimal.